Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 di program studi Sastra Indonesia (ilmu-ilmu sastra), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Selasa, 23 Juli 2013

Stilistika Naratif dan Teori Narasi Waktu Gennete

Naratologi adalah study tentang narasi sedangkan stilistika naratif menganalisis aspek gaya pada narasi cerita sebuah karya sastra. Analisis naratif seperti disampaikan oleh Simpson (2004) menyediakan sebuah cara untuk memberikan ikhtisar terhadap perasaan yang di dapat ketika membaca sebuah karya sastra dengan mengkaitkan pola-pola bahasa yang digunakan dalam sebuah rangkaian kejadian.[1] Ketika yang dicermati adalah nilai stilistiknya maka yang kemudian menjadi perhatian dalam analisis naratif adalah gaya (kaitannya dengan deviasi dsb) yang dipakai dalam skema narasi sebuah karya.

Narasi cerita juga tidak bisa dilepaskan dari konteks permainan waktu. Teori yang digunakan dalam analisis ini adalah teori narrative time (waktu narasi) nya Genette.[2] Genette (1980) mengungkapkan tiga aspek dalam waktu narasi yaitu; 1. Order, 2. Duration, 3. Frequency. Di antara tiga aspek tersebut, satu yang mungkin paling dikenal adalah order. Secara sederhana order berbicara tentang penempatan waktu yang seperti 'tidak sesuai' terkait jarak antara narasi sebuah kejadian yang sedang diceritakan dengan kejadian lain. Menurut Genette order memiliki dua jenis anachrony (penempatan kejadian yang pada waktu yang tidak tepat/salah) yaitu analepsis, atau biasa dikenal dengan 'flashback', dan prolepsis, atau 'flashforward'.

Lebih lanjut Genette melihat cakupan ciri dalam menelisik permainan waktu narasi dengan melihat pada tanda yang disajikan dalam narasi untuk memperkirakan atau menduga apa yang akan terjadi di masa datang atau sekuen selanjutnya dengan mengatakan bahwa, An advance notice refers to an event which is told in full beforehand and its linguistic markers in a prototypical case are phrases such as "we will see" or "one will see later".

Genette menambahkan bahwa tanda akan sekuen selanjutnya memiliki kecnderungan akan jarak waktu entah jauh hari setelah kejadian saat diceritakan atau dalam waktu dekat. Tanda ini dia sebut sebagai tanda-tanda sederhana tanpa antisipasi dengan poin utamanya adalah bahwa ketika tanda ini muncul biasanya tidak sianggap sebagai hal yang begitu penting pun pada akhirnya jadi penting.[3]

Singkatnya, narrative stylistics atau stilistika narasi mencermati deviasi dan gaya unsur-unsur di dalam skema narasi seperti alur yang mencakup time (waktu), point of view (sudut pandang pencerita), tokoh dan penokohan, dan gaya bahasa kaitannya dengan tone dengan metodologi leech yaitu mengungkap tanda dalam kelompoknya dan frekuensi penggunaannya.



[1] Simpson, Paul. 2004. Stylistics, A Resource Book for Students. London. Routledge. 18

[2] Genette, Gerard. 1980. Narrative Discourse, An Essay in Method. New York: Cornell University Press. 73; Ogunsiji, Ayo. 2012. Literary Stylistics. Victoria Island. National Open Unversity of Nigeria. 61

[3] Genette, Gerard. 1980. Narrative Discourse, An Essay in Method. New York: Cornell University Press. 73-74

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar