Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 pada program studi Sastra Indonesia (keminatan Ilmu Sastra) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Kamis, 15 Desember 2011

Contoh KAJIAN FORMALISME RUSIA

TEKNIK PENCERITAAN DALAM CERPEN
SARAJEVO'S WOMBS AND THE CHILDREN OF TORN
(KAJIAN FORMALISME RUSIA)


Oleh
Alfian Rokhmansyah


Pendahuluan

Cerpen Sarajevo’s Wombs and The Children Of Torn karya Aiman Tashika merupakan novel terjemahan yang menceritakan perjalanan hidup seorang anak mencari ibu kandungnya. Ia, yang bernama Advija, adalah anak yang dilahirkan dari hasil pemerkosaan tentara Serbia terhadap perempuan Bosnia yag terjadi pada masa perang Serbia-Bosnia. Advija akhirnya menemukan ibu kandungnya setelah sekian lama diadopsi oleh seorang aktivis perempuan.

Dalam cerpen ini sangat menonjol teknik penceritaan yang dilakukan oleh pengarang. Sudut pandang orang pertama sebagai pengamat merupakan cara yang tepat untuk memberikan efek seperti tokoh utama sendiri yang bercerita apa yang dialaminya. Pengarang juga memasukkan beberapa paragraf yang menunjukkan data-data yang digunakan untuk meyakinkan pembaca mengenai cerita tokoh utama.

Penggunaan teknik penceritaan sangat erat kaitannya dengan Formalisme Rusia. Secara singkat, konsep defamiliarisasi dalam Formalisme Rusia merupakan teknik yang dilakukan pengarang untuk mengolah fabula menjadi sederetan sjuzet. Defamiliarisasi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu untuk mengolah fabula sehingga memunculkan efek tertentu pada pembaca.

Analisis cerpen ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan objektif sehingga dapat menemukan teknik penceritaan yang digunakan oleh pengarang untuk mengembangkan cerita sehingga memunculkan efek tertentu untuk pembaca. Analisis ini hanya mengungkapkan teknik-teknik penceritaan yang digunakan pengarang dan efek yang ditimbulkan olehnya. Unsur-unsur lain dalam cerpen hanya digunakan untuk mendukung analisis utama, yaitu analisis teknik penceritaan.

Teknik Penceritaan dalam Cerpen

Ada beberapa teknik penceritaan yang digunakan pengarang dalam cerpen ini. Teknik penceritaan orang pertama adalah hal yang paling menonjol dalam cerpen ini. Pengarang menghadirkan tokoh Advija sebagai tokoh utama yang menceritakan kehidupannya. Pada teknik penceritaan orang pertama ini, pengarang juga memanfaatkan teknik monolog interior. Monolog interior digunakan untuk memberikan gambaran batin tokoh “aku” (selanjutnya disebut Advija). Selain penggunaan teknik monolog interior, juga digunakan teknik pengamatan dan teknik reportase. Teknik pengamatan digunakan pengarang untuk mengamati apa yang terjadi di sekitar tokoh. Sedangkan teknik reportase, digunakan untuk memberikan informasi-informasi faktual yang menyebabkan cerita dalam cerpen seakan-akan adalah peristiwa konkret dan nyata terjadi.

Cerpen ini merupakan kisah perjalanan Advija menuju ke suatu lokasi yang dituju oleh Mom. Cerita dimulai dengan perkenalan tokoh utama mengenail latar belakangnya dan Mom. Adjiva menceritakan latar belakang pekerjaan Mom yang menjadi ibunya selama ini. Kemudian dilanjutkan dengan penceritaan diri Adjiva. Banyak kejadian yang dialami Adjiva hingga ia mengalami konflik batin yang amat besar. Adjiva mengalami kegagalan-kegagalan dalam mengidentifikasi dirinya. Dari hasil gunjingan dan ejekan yang diterimanya, menjadikan ia bertanya-tanya siapa sebenarnya.

Cerita dilanjutkan dengan pemaparan mengenai peristiwa perang Serbia-Bosnia. Pemaparan ini dilakukan dengan memasukkan informasi dari beberapa sumber. Semuanya memaparkan kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara-tentara Serbia terhadap perempuan-perempuan Bosnia.

Cerita dilanjutkan dengan kejadian masa sekarang ketika Advija dan Mom akan pergi ke sebuah desa. Sesampainya di sebuah rumah, Mom dan Advija menemui seorang wanita yang merupakan korban pemerkosaan tentara Serbia. Advija merasakan apa yang dialami oleh perempuan itu. Hingga akhirnya perempuan itu mengamuk dan Mom harus dibawa ke rumah sakit. Di bagian akhir cerita, yaitu di rumah sakit, Mom akhirnya menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Pada bagian akhir ini terungkap semua siapa sebenarnya Advija. Ia adalah Edin, anak perempuan yang baru saja ia dan Mom temui.

Dari bagian-bagian sjuzet cerpen ini, dari rangkaian peristiwa, pengguaan lokasi dalam cerita, dan penggunaan sarana informasi dari berbagai sumber di dalam cerita yang digunakan oleh pengarang, dapat diketahui fakta yang mendasari fabula dalam cerpen ini. Fabula yang digunakan adalah peristiwa pada perang Serbia-Bosnia yang terjadi antara tahun 1992-1995. Sebagaimana diketahui, pada masa perang Serbia-Bosnia yang terjadi tahun 1992-1995 terjadi pemerkosaan besar-besaran yang dilakukan tentara Serbia pada perempuan-perempuan muslim di Bosnia. Banyak perempuan-perempuan Bosnia yang hamil akibat perkosaan tentara-tentara Serbia. Mereka melahirkan anak-anak itu lalu dibuang atau dimasukkan ke panti asuhan. Bagian ini yang disorot oleh pengarang dan dikembangkan ke dalam sebuat cerpen.

Sudahkah aku cerita kalau Mom adalah korban perkosaan tentara Serbia juga? Tapi ia termasuk yang langka. Dia bisa bertahan meski cerita buruk tidak hanya menimpanya,namun juga kakak perempuannya,yang tewas di kamp konsentrasi.

Pada kutipan di atas, terlihat adanya penyataan dari tokoh Advija mengenai pemerkosaan yang dilakukan tentara Serbia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fakta yang melandasi fabula cerpen ini adalah peristiwa perang Serbia-Bosnia tahun 1992-1995.

Teknik penceritaan orang pertama juga memanfaatkan teknik monolog interior, pengamatan, dan reportase. Teknik penceritaan orang pertama digunakan untuk menunjukkan bahwa peristiwa itu benar-benar dialami oleh tokoh utama. Ia dilahirkan dari hasil perkosaan tentara Serbia terhadap perempuan Bosnia yang kemudian dibuang di panti asuhan. Akhirnya diadopsi oleh seorang perempuan yang bernama Bakira Hasecic dan dipanggil Mom. Di akhir cerita akhirnya Mom berhasil mempertemukan Advija dan ibu kandungnya, Esma, walaupun tidak secara langsung ia dipertemukan. Mom baru memberitahukannya setelah mereka di rumah sakit.

Pengonkretan fakta yang digunakan dalam cerpen ini diperkuat dengan teknik monolog interior, teknik pengamatan, dan teknik reportase. Teknik monolog interior digunakan pengarang untuk menunjukkan konflik batin yang dialami oleh Advija. Ia mengalami konflik dalam menemukan identitasnya yang sebenarnya, mulai dari ejekan teman-temannya yang memanggilnya pero, yaitu sebutan untuk orang Serbia. Namun, ia tetap yakin bahwa ia adalah anak Mom. Kenyataan itu selalu ia lawan, hingga akhirnya ia tetap mempertanyakan kenyataan asal-usulnya dan siapa ibu kandungnya.

Tapi, haruskah aku mengajukan pertanyaan seperti itu pada batinku sendri? Ia adalah diriku. Suara tertulus dari diriku. Bagaimana mungkin aku meragukannya? Kurasa aku memang terlalu lama bersembunyi di balik topeng yang ku ciptakan sendiri. Aku sadar aku terganggu. Mungkin sesungguhnya aku benar-benar ingin tahu asal-usulku. Aku ingin lihat wajah ibu kandungku. Aku ingin tahu ayahku-lalu meludahinya, memakinya, atau mungkin memeluknya.

Pada kutipan di atas, terlihat konflik batin yang dialami oleh Advija atas kenyataan jadi dirinya. Ia mengalami gejolak yang hebat dalam dirinya. Hal ini terjadi setelah ia tahu bahwa sebenarnya ia diambil dari panti asuhan dan diadopsi oleh Mom.

Selain itu pengongkretan fakta cerita juga dilakukan dengan teknik pengamatan, yaitu mengamati kejadian yang ada di sekeliling tokoh utama. Kejadian yang menonjol dan dilakukan dengan teknik pengamatan adalah pekerjaan Mom dan kejadian saat ibu Esma mengamuk. Pekerjaan Mom sebagai seorang relawan yang mengurusi korban-korban pemerkosaan tentara Serbia menjadikan Advija penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam pekerjaan Mom hingga menjadikan Advija merasa ada keganjilan bahwa ia sebenarnya bukan anak kandung Mom. Hal ini kemudian mengungkap kenyataan bahwa Advija adalah anak adopsi dan anak hasil perkosaan.

Selain itu teknik pengamatan juga dilakukan untuk menggambarkan suasana rumah keluarga Esma. Saat masuk ke dalam rumah dan kamar Esma, Advija menggambarkan secara detail keadaan lokasi tersebut. Mulai dari kondisi ruangan, suasana saat Esma mulai marah, hingga saat Esma mengamuk dan melempari Mom.

Esma meraung, mengambil apa pun yang bisa diambilnya, dan melemparnya ke arah ibunya dan kami. Mom berkelit. Aku menunduk dan berlari ke belakang bangku. Ibu Esma tidak bergerak dan membiarkan dahinya terluka ditimpuk vas berbunga kertas. Mom dengan gesit memeluk Esma, tapi Esma tidak kalah kuat. Dia membuyarkan lingkaran tangan yang membelenggunya dengan sekali gerakan membongkar dan bergemuruh keras-keras. Esma berbalik, dan menghantam Mom dengan tangan kosong.

Kutipan di atas menunjukkan pengamatan saat Esma mengamuk. Mom berusaha menenangkan Esma. Tetapi Esma lebih kuat dan bisa melepaskan diri. Esma mulai menghantam Mom hingga jatuh. Hingga akhirnya Advija menerjang Esma. Penggunaan teknik pengamatan ini dilakukan untuk memperkuat adegan yang ada dalam cerita sehingga menimbulkan efek seperti pembaca seakan ikut melihat kejadian yang terjadi di sekitar tokoh utama.

Teknik reportase digunakan untuk memperkuat penggunaan fabula dalam cerita. Pengarang memasukkan informasi-informasi yang dapat menimbulkan efek faktual dan pembaca seakan membaca sebuah berita. Hal ini ditandai dengan penggunaan kalimat Menurut Alexandra Stiglmayer, editor Mass Rape: The War Againt Women in Bosnia-Herzegovina...”, Mantan kepala polisi Bosnia, Edhem godinjak, pernah mengatakan...”, dan Laporan UNICEF mendukung pernyataan Mom.” Dari ketiga kalimat tersebut, penggunaan nama orang dan lembaga tertentu, dapat menimbulkan efek faktual dalam cerita.

Teknik penceritaan orang pertama dengan bantuan teknik monolog interior, pengamatan, dan reportase, menimbulkan. Pembaca juga diajak untuk membaca fakta mengenai peristiwa pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara Serbia pada perempuan Bosnia hingga melahirkan bayi-bayi. Selain itu, efek kejutan juga terjadi di akhir cerita. Mom mengungkapkan siapa sebenarnya Advija dan Edin. Ternyata Edin yang dimaksud Mom adalah Advija. Hal ini menunjukkan bahwa Advija adalah Edin putra dari Esma yang merupakan hasil perkosaan tentara Serbia.

Simpulan

Analsis menggunakan teori Formalisme Rusia dan pendekatan objektif pada cerpen ini dapat menunjukkan teknik-teknik yang digunakan pengarang dalam mendefamiliarisasikan fabula menjadi sjuzet. Teknik yang digunakan adalah teknik penceritaan orang pertama, teknik monolog interior, teknik pengamatan, dan teknik reportase. Dari analisis ini pula diketahui bahwa fakta yang mendasari fabula dalam cerpen ini adalah peristiwa pada perang Serbia-Bosnia yang terjadi antara tahun 1992-1995. Efek yang ditimbulkan dari defamiliarisasi dalam cerpen ini antara lain efek seperti pembaca seakan ikut melihat kejadian yang terjadi di sekitar tokoh utama, efek faktual dalam cerita dengan memanfaatkan nama orang dan lembaga tertentu, dan efek seperti tokoh utama seakan-akan bercerita secara langsung pada pembaca mengenai peristiwa yang dialaminya. Selain itu pada akhir cerita dimanfaatka sespense untuk menimbulkan efek kejutan atas kenyataan mengenai kenyataan siapa tokoh Advija yang sebenarnya.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar