Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH, S.S.

Menempuh studi S-1 pada program studi Sastra Indonesia (keminatan Ilmu Sastra) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook.
Memuat...

Senin, 03 Oktober 2011

Teori dan Kritik Sastra Feminisme

Oleh:
Alfian Rokhmansyah, S.S.


Sekilas tentang Teori Feminisme

Feminisme menurut Goefe (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002:18) adalah teori tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di segala bidang. Suatu kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan. Hal ini disebabkan perempuan selalu mengalami ketimpangan gender selama ini. Feminisme berupaya menggali identitas perempuan yang selama ini tertutupi hegemoni patriarkat. Identitas diperlukan sebagai dasar pergerakan memperjuangkan kesamaan hak dan membongkar akar dari segala ketertindasan perempuan. Tujuan feminis adalah mengakhiri dominasi laki-laki dengan cara menghancurkan struktur budaya, segala hukum dan aturan-aturan yang menempatkan perempuan sebagai korban yang tidak tampak dan tidak berharga. Hal ini diterima perempuan sebagai marginalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan.

Menurut Fakih (2003:99-100) feminisme berangkat dari asumsi bahwa perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi. Feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem yang dahulu tidak adil menuju ke sistem yang lebih adil bagi kedua jenis kelamin. Hakikat feminisme adalah gerakan transformasi sosial. Puncak cita-cita feminis adalah menciptakan sebuah tatanan baru yang lebih baik dan lebih adil untuk laki-laki dan perempuan.

Menurut Eisenstein (dalam Fakih, 2003:92-93) ketidakadilan yang dialami perempuan bukan karena perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih karena penilaian dan anggapan. Ketidakadilan terhadap perempuan terjadi karena konstruksi sosial di masyarakat. Sebagai sebuah konstruksi, sistem itu bisa dibongkar dengan cara merumuskan nilai-nilai yang mengatur kedudukan pada satu gender yang berlaku untuk setiap jenis kelamin. Lebih utamanya adalah membangun suatu budaya perempuan dan laki-laki , dalam arti sebuah budaya yang sama-sama menghargai kedua jenis kelamin. Penghargaan terhadap kedua jenis kelamin tersebut belum ada, dan mau tidak mau harus dilakukan untuk mewujudkannya.

Dalam kajian terhadap perempuan konsep utama yang harus dipahami adalah perbedaan antara seks dan gender. Gender dan seks merupakan sebuah konsep yang berbeda. Pembedaan konsep itu diperlukan guna memahami ketidakadilan sistem sosial. Hal ini disebabkan masih banyak kesalahan dengan apa yang dimaksud dengan gender dan seks (Fakih, 2003:7).

Menurut Fakih (2003:8-9) gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Konstruksi ini melalui jalan yang panjang dan melalui proses sosialisasi yang secara perlahan melekat pada jenis kelamin tertentu. Pelekatan ini dipelajari dari lingkungan sekitar seperti, orang tua, sekolah, budaya, kepercayaan, pendidikan dan sebagainya. Laki-laki dianggap sebagai makluk yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sementara perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Sifat dan ciri yang dimiliki jenis kelamin itu sebenarnya dapat dipertukarkan. Hal ini karena ciri dan sifat itu merupakan hasil konstruksi masyarakat. Sifat dan ciri yang melekat sangat dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya masyarakat di dalamnya, serta perubahan zaman yang terjadi. Pemberian sifat pada tiap-tiap jenis kelamin ini menimbulkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Hal ini karena ada anggapan perempuan membutuhkan perlindungan laki-laki.

Perbedaan gender tidak akan menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Akan tetapi, yang terjadi perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender terutama kepada perempuan. Manifestasi ketidakadilan gender terjadi dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Fakih, 2003:12).

Perbedaan gender ini juga telah melahirkan budaya patriarkat. Patriarkat diartikan sebagai kekuasaan yang dimiliki oleh ayah atau laki-laki. Konstruksi sosial kekuasaan laki-laki dalam keluarga berkaitan dengan seluruh penguasaan anggota keluarga, sumber ekonomi, pengambil keputusan, pembuat peraturan dan lainnya. Dapat dikatakan, patriarkat adalah sebuah sistem yang meletakkan kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Sistem ini pada akhirnya menjadi sebuah ideologi dalam masyarakat bahwa perempuan adalah milik laki-laki sehingga setiap gerak langkah perempuan tidak boleh melebihi yang memilikinya. Hal ini membuat segala nilai sosial yang ada harus disesuaikan menurut pandangan dan kepentingan laki-laki. Sistem seperti inilah yang membuat perempuan dirugikan baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya.


Daftar Pustaka

  1. Abdullah, Irwan. 1997. “Dari Domestik ke Publik: Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan.” Dalam Abdullah, Irwan (Ed.). Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Adji, S.E. Peni. 2003. Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis. Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  3. Baribin, Raminah. 1989. Kritik Sastra dan Penilaian. Semarang: IKIP Semarang Press.
  4. Budianta, Melani. 2002.Pendekatan Feminis Terhadap Wacana Sebuah Pengantar. Dalam Budiman, Kris (Ed.). Analisis Wacana Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi. Yogyakarta: Kanal.
  5. Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
  6. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
  7. Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  8. Noor, Redyanto. 1994. Perempuan Idaman Novel Indonesia: Erotik dan Narsistik. Semarang: Bendera.
  9. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  10. Rahayu, Fitriani Nur. 2003. Perspektif Feminisme Tokoh Utama Wanita dalam Novel Canting Karya Arswendo Atmowiloto. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
  11. Saparie, Gunoto. 2005. Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=113881 (diunduh 20 April 2009).
  12. Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Diterjemahkan oleh Rahmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  13. Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Katarsis.
  14. Suaka, I Nyoman. 2003. Citra Wanita dalam Kritik Sastra Feminis. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/9/28/ap3.html (diunduh 20 April 2009).
  15. Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  16. Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
  17. Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Diterjemahkan oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra.
  18. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

* untuk mengunduh artikel ini, silakan masuk Halaman Download
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar