Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 pada program studi Sastra Indonesia (keminatan Ilmu Sastra) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. atau bisa melalui SMS/WA ke +6285385388335 dan Pin BBM 33054a80


Memuat...

Minggu, 02 Oktober 2011

TANDA DAN MAKNANYA DALAM PUISI PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA KARYA HARTOYO ANDANGJAYA (KAJIAN SEMIOTIKA PUISI)

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia S1

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa,
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara,
mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perenpuan yang membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja,
perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

(Hartoyo Andangjaya)

1. Pendahuluan

Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif. Puisi merupakan suatu karya sastra yang inspiratif dan mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair. Sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak dan memberikan imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks.

Pradopo (dalam Suharianto 2005: 8) mengatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Analisis semiotik yang diterapkan pada puisi berbeda dengan semiotik yang diterapkan untuk prosa. Semiotik puisi sebenarnya tidak akan berhenti sampai pada perangkat puitiknya saja, melainkan dapat sampai pada melacak latar belakang ideologi pengarangnya, atau latar belakang sosial-budaya puisi yang ditulisnya sebagaimana yang diungkapkan oleh Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry.

Puisi yang dijadikan obyek kajian dalam analisis ini adalah puisi Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya. Analisis semiotik pada puisi Hartoyo Andangjaya ini, berpedoman pada teori Riffaterre.

2. Analisis Semiotik Puisi Perempuan-Perempuan Perkasa

Analisis puisi Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya dilakukan dengan menganalisis unsur intrinsik menggunakan pendekatan semiotik, khususnya pendekatan semiotik puisi dari Riffaterre. Analisis tanda pada unsur intrinsik meliputi analisis gaya bahasa, enjambemen, tipografi, penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti.

Judul puisi perempuan-perempuan perkasa dapat dikatakan dapat mewakili isi yang ingin disampaikan oleh penyair dalam puisi ini. Frasa perempuan-perempuan perkasa merupakan penggambaran penyair mengenai perjuangan kaum wanita, yaitu ibu-ibu, dalam mencari nafkah untuk membantu perekonomian keluarga serta menyejahterakan keluarga mereka. Setiap hari mereka berjuang membanting tulang di tepat kerja mereka. Hal yang ingin ditonjolkan penyair dalam puisi ini adalah pengorbanan dan kerja keras para ibu-ibu dengan mengibaratkan mereka sebagai perempuan-perempuan perkasa.

3. Penutup

Puisi ini termasuk puisi yang mudah dipahami oleh pembaca. Pembaca akan dengan mudah menemukan makna yang ingin disampaikan oleh penyair. Karena penyair menggunakan susunan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca sehingga tidak terdapat nonsense pada puisi ini.

Puisi ini menggambarkan perjuangan seorang wanita yang telah berkeluarga untuk mencari nafkah demi kehidupan keluarga dan ikut membantu perekonomian keluarga. Walaupun suami mereka telah bekerja.

Setiap hari mereka berjuang membanting tulang di tepat kerja mereka. Hal yang ingin ditonjolkan penyair dalam puisi ini adalah pengorbanan dan kerja keras para ibu-ibu dengan mengibaratkan mereka sebagai perempuan-perempuan perkasa.

Penyair juga mengumpamakan ibu sebagai akar yang menopang pohon. Dengan kata lain ibu yang bekerja membanting tulang dan menghidupi keluarga adalah penopang ekonomi keluarga disamping suaminya.

Puisi ini juga dapat dihubungkan dengan kehidupan masyarakat sekarang. Banyak ibu-ibu yang bekerja dan meniti karier di luar rumah ketimbang mengasuh dan menjaga keluarga mereka.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Edraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
  2. Keraf, Gorys. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
  3. Kridalaksana, Harimukti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  4. Mugijatna. 2008. “Teori Semiotika Puisi Reffaterre dan Ideologi Penyair”. Artikel Konferensi Internasional Kesusastraan XIX di Batu 12-14 Agustus 2008. Malang: Batu.
  5. Mulyana, Slamet. 1956. Peristiwa Bahasa dan Sastra. Jakarta: Granaco N.V.
  6. Natawijaya, Suparman. 1986. Apresiasi Stilistika. Jakarta: Internusa.
  7. Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  8. Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sasatra. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
  9. _______. 2000. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  10. _______. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  11. Reffaterre, M. 1978. Semiotics of Poetry. Great Britain: Spottiswoode Ballantyne.
  12. Suharianto, S. 2005. “Pengkajian Puisi”. Buku Ajar Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
  13. Suyoto, Agustinus. 2007. “Dasar-dasar Analisis Puisi”. Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: SMU Stella Duce 2 Yogyakarta.
  14. Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
  15. Zoest, Aart van. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Diterjemahkan oleh Ani Soekowati. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

untuk download file ini, silakan masuk Halaman Download
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar