Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 di program studi Sastra Indonesia (ilmu-ilmu sastra), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Jumat, 14 Oktober 2011

SASTRA SERIUS DAN SASTRA POPULER

Oleh:
Alfian Rokhmansyah, S.S.


Hakikat Sastra Serius dan Sastra Populer

Sastra serius adalah sastra yang main-main (Kayam, 1981: 87). Sastra serius dapat memberikan yang serba berkemungkinan. Jenis sastra ini membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi dalam membacanya. Pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditampilkan, disoroti sampai ke inti hakikat kehidupan yang bersifat universal.

Selain memberikan hiburan, sastra serius juga terimplisit juga memberikan pengalaman yang berharga bagi pembacanya atau mengajak pembaca untuk meresapi lebih sungguh-sungguh permasalahan yang diangkat dalam sastra tersebut. Nurgiyantoro (1998: 19) mengatakan bahwa hakikat kehidupan tetap dipertahankan sepanjang masa. Hal ini yang menyebabkan sastra serius tetap menarik diperbincangkan. Dalam karya sastra Indonesia, yang termasuk sastra serius adalah puisi-puisi Amir Hamzah, puisi-puisi Chairil Anwar, novel Belenggu, Ronggeng Dukuh Paruk, dan Siti Nurbaya.

Sastra serius biasanya mengungkap hal yang baru. Misalnya pada novel-novel serius. Novel serius berusaha mengungkapkan sesuatu yang baru dengan cara pengucapan yang baru pula. Oleh karena itu novel serius tidak bersifat stereotip (Nurgiyantoro, 1998: 20).

Sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiyantoro, 1998: 18).

Sebutan sastra populer mulai merebak setelah tahun 70-an. Sering pula sastra yang terbit setelah itu dan mempunyai fungsi hiburan belaka, walaupun bermutu kurang baik, tetap dinamakan sebagai sastra populer atau sastra pop (Kayam, 1981: 82). Sastra populer adalah semacam sastra yang dikategorikan sebagai sastra hiburan dan komersial. Kategori hiburan dan komersial ini disangkutkan pada selera orang banyak.

Biasanya sastra populer bersifat artifisial atau bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak memaksa orang untuk membacanya sekali lagi. Oleh karena itu sastra populer cepat dilupakan pembacanya apalagi dengan munculnya karya sesudahnya (Nurgiyantoro, 1998: 20).

Menurut Kayam (1981: 88) sastra populer adalah perekam kehidupan, dan tidak banyak memperbincangkan kembali kehidupan dalam serba kemungkinan. Ia menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan itu dengan harapan pembaca akan mengenal kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalaman-pengalamannya itu. Sastra populer yang baik akan mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.

Sastra populer lebih mengejar selera pembaca komersial. Kategori sastra ini tidak akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius sebab akan mengurangi jumlah penggemarnya. Sastra populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati. Ia tidak berpretensi mengejar efek estetis, melainkan memberikan hiburan langsung dari isinya. Isinya pun tergolong ringan, tetapi masih aktual dan menarik. Contoh sastra populer Indonesia misalnya, puisi-puisi remaja yang terbit di majalah-majalah, cerpen percintaan remaja, novel Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan lain sebagainya.

Perbedaan Sastra Serius dan Sastra Populer

Umumnya perbedaan antara sastra serius dan sastra populer adalah sebagai berikut:
  1. Sastra populer lebih bersifat sementara dan mudah dilupakan pembacanya. Sastra serius bersifat tetap, tidak mudah dilupakan dan selalu diingat sepanjang masa.
  2. Sastra serius lebih menonjolkan hakikat kehidupan secara mendalam. Sastra populer tidak terlalu intens dalam mengungkap hakikat kehidupan.
  3. Sastra populer isinya cenderung ringan, sehingga lebih mudah dibaca. Sastra serius lebih berbobot, sehingga membutuhkan daya konsentrasi yang tinggi dalam membacanya.
  4. Dari segi jumlah pembaca, sastra serius tidak mempunyai banyak pembaca pada setiap zamannya, sedangkan sastra populer lebih banyak pembacanya. Sastra populer lebih bersifat mengabdi kepada selera pembaca, sastra serius tidak bersifat mengabdi kepada selera pembaca.
  5. Sastra populer tidak berpretensi mengejar efek estetis, melainkan memberikan hiburan langsung dari isinya. Sastra serius berpretensi mengejar efek estetis.
  6. Sastra populer lebih bersifat stereotip, hanya bersifat itu-itu saja, dan tidak mengutamakan adanya unsur-unsur pembaharuan. Sastra serius tidak bersifat stereotip sehingga terdapat unsur pembaharuan.

Daftar Pustaka

  1. Handayani, Rara. 2008. Sastra Populer. http://rara89.wordpress.com/2008/07/16/sastra-populer/ (diunduh 23 September 2009)
  2. Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.
  3. Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  4. Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Diterjemahkan oleh Sugihartuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Comments
    0 Comments

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar