Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 di program studi Sastra Indonesia (ilmu-ilmu sastra), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Sabtu, 29 Oktober 2011

PEMAKNAAN JUDUL NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL-SAADAWI

Oleh:
Alfian Rokhmansyah, S.S.


Abstrak
Pemanfaatan judul oleh pengarang digunakan dalam menggambarkan isi karya mereka sebelum pembaca masuk dalam dunia bacaan. Judul yang digunakan dalam karya-karya sastra berbeda dengan judul pada karya-karya ilmiah yang umumnya bermakna sebenarnya. Pemaknaan yang diberikan pembaca merupakan hasil interpretasi yang muncul dan mengisi alam imajinasi pembaca itu. Hal ini akan memengaruhi cakrawala harapan dari pembaca atas karya sastra yang akan dibacanya. Dalam telaah ini, digunakan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi. Pada novel Perempuan di Titik Nol judul yang digunakan mewakili isi dari novel tersebut. Kalimat “perempuan di titik nol” yang dijadikan judul oleh Nawal el-Saadawi dimaknai sebagai kondisi tokoh utama perempuan, yakni Firdaus, berada pada derajat paling rendah, tidak bernilai bila dibandingan dengan derajat laki-laki. Kondisi ini digambarkan dengan kondisi kehidupan Firdaus, mulai dari kondisi paling rendah pada kehidupan keluarga, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, kehidupan pendidikan, dan kodratnya sebagai seorang perempuan menyebabkan Firdaus berada di bawah laki-laki.

Kata kunci : judul, derajat, perempuan, laki-laki


PENGANTAR

Novel Perempuan di Titik Nol (selanjutnya disingkat PdTN) menceritakan kehidupan kelam seorang pelacur yang divonis hukum gantung karena telah membunuh seorang germo. Melalui Firdaus, si pelacur, penulis dengan tajam menguak kebobrokan masyarakat Mesir yang didominasi oleh kaum laki-laki. Novel yang diangkat dari kisah nyata ini merupakan interpretasi dari jeritan penderitaan dan pemberontakan wanita Mesir yang tertindas. Tema besar dari novel ini adalah feminisme yang digambarkan dengan sinis dan ironi dari kehidupan kelam seorang wanita Mesir atas bentuk protesnya terhadap dominasi kaum lelaki pada zamannya.

Novel ini merupakan karya kedelapan Nawal el-Saadawi, seorang feminis dari Kairo. Ia lahir di Kafr Tahla, 27 Oktober 1931, yang banyak menulis tentang wanita dalam Islam. El-Saadawi lulus dari jurusan kedokteran Universitas Kairo pada 1955. Melalui praktik medisnya, dia melakukan observasi permasalahan fisik dan psikologis wanita lalu menghubungkannya dengan tekanan praktik kebudayaan, dominasi patriarki, tekanan kelas, dan imperialis. (http://en.wikipedia.org/wiki/Nawal_El_Saadawi)

Pemaknaan suatu karya sastra tidak lepas dari pemaknaan judul karya sastra itu sendiri. Judul merupakan suatu bagian karya sastra yang digunakan untuk menggambarkan isi dari karya sastra tersebut. Tidak hanya pada karya sastra yang bersifat fiktif, pada karya ilmiah pun, judul digunakan untuk mempresentasikan isi yang akan disajikan kepada pembaca. Pada karya ilmiah, judul umumnya berupa makna sebenarnya dan langsung dapat dicerna oleh pembaca sehingga pembaca bisa langsung mengetahui isi dari karya ilmiah tersebut. Lain halnya dengan karya sastra. Pembaca karya sastra umumnya harus membaca karya sastra dan akhirnya dapat memaknai judulnya. Hal ini yang menjadi pembeda antara karya ilmiah dan karya sastra.

Saat pertama kali memegang novel PdTN, pembaca akan bertanya-tanya mengapa maksud pengarang memberikan judul “Perempuan di Titik Nol”. Pembaca sebenarnya telah mengetahui bahwa novel PdTN merupakan novel yang membawa wacana feminisme. Hal ini terlihat dari kata perempuan yang tertera pada awal kalimat judul sehingga pembaca yang tertarik dengan wacana feminisme akan senantiasa berusaha untuk membaca novel PdTN.

Pemaknaan yang diberikan pembaca merupakan hasil interpretasi yang muncul dan mengisi alam imajinasi pembaca itu. Hal ini akan memengaruhi cakrawala harapan dari pembaca atas karya sastra yang akan dibacanya. Pembaca akan memaknai secara harfiah judul novel PdTN tersebut sesuai dengan pengalaman, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, latar belakang sosial, dan pekerjaannya.

Pada kalimat perempuan di titik nol hal yang paling menonjol adalah frasa titik nol. Penggunaan frasa titik nol ini membuat interpretasi pembaca akan menjadi bermacam-macam. Secara umum, kata nol dapat diartikan sebagai lambang tidak ada nilai atau lambang kekosongan. Kata perempuan pada judul novel, seperti telah disebutkan sebelumnya, menyebabkan pembaca akan menyimpulkan bahwa novel PdTN akan bercerita seputar permasalahan perempuan.

Jika dimaknai secara harfiah, perempuan di titik nol dapat diartikan seorang perempuan yang berada pada kondisi kekosongan. Tetapi dari pemaknaan semacam ini tidak bisa menggambarkan isi novel yang sesungguhnya sehingga perlu pengungkapan hal-hal lain dapat mendukung interpretasi semacam ini.

Tulisan ini akan mengungkap makna judul dari novel PdTN karya Nawal El-Saadawi. Dalam pemaknaan judul ini, penulis akan mencoba mengaitkannya dengan permasalahan-permasalahan yang diangkat sebagai wacana dalam karya sastra tersebut.


SIMPULAN

Dari analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa judul dalam novel PdTN menggambarkan secara luas isi dari novel. Kalimat perempuan di titik nol yang dijadikan judul oleh Nawal el-Saadawi dimaknai sebagai kondisi tokoh utama perempuan, yakni Firdaus, berada pada kondisi derajat paling rendah, tidak bernilai bila dibandingan dengan derajat laki-laki. Kondisi ini digambarkan dengan kondisi kehidupan Firdaus, mulai dari kondisi paling rendah pada kehidupan keluarga, kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, kehidupan pendidikan, dan kodratnya sebagai seorang perempuan menyebabkan Firdaus berada di bawah laki-laki. Perempuan hanya dijadikan objek eksploitasi oleh kaum laki-laki sehingga terjadi dominasi laki-laki atas perempuan.


DAFTAR PUSTAKA

  • Adji, S.E. Peni. 2003. "Karya Religius Danarto: Kajian Kritik Sastra Feminis". Dalam Jurnal Humanioran Volume XV, No. 1/2003, hlm. 23-28. Yogyakarta: UGM Press.
  • Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
  • El-Saadawi, Nawal. 2006. Perempuan di Titik Nol. Diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dari Women at Point Zero. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • _______. 2006. Perjalananku Mengelilingi Dunia: Catatan Perjalanan Seorang Penulis Feminis. Diterjemahkan oleh Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • _______. 2007. Memoar Seorang Dokter Perempuan. Diterjemahkan oleh Kustiniyati. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
  • Fakih, Mansour. 2003. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
  • Harsono, Siswo. tt. Nol Derajat Perempuan. http://staff.undip.ac.id/sastra/siswo-harsono/sastra-dunia/ (diakses 29 Oktober 2011)
  • Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

untuk mengunduh file ini, silakan masuk Halaman Download
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar