Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 di program studi Sastra Indonesia (ilmu-ilmu sastra), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Minggu, 02 Oktober 2011

JENIS-JENIS RELASI MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Relasi makna terdiri dari:
1. Sinonim atau Sinonimi
Sinonimi atau yang sering disebut dengan sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dan frase duduk perut. Relasi ini bersifat dua arah (Chaer, 2003: 297).
2. Antonim atau Antonimi
Antonimi adalah pasangan kata yang mempunyai arti yang berlawanan. (Alwasilah, 1987: 150). Misalnya, mudah dan sukar; tinggi dan rendah; lebar dan sempit; besar dan kecil. Hubungan ini mempunyai hubungan timbal balik.
3. Homonimi atau Homonim
Homonimi adalah beberapa kata diucapkan persis sama tapi artinya beda (Alwasilah, 1987: 150). Menurut Verhaar (1983: 395), homonim adalah hubungan di antara dua kata atau lebih yang bentuknya sama tetapi maknanya berbeda. Misalnya bisa yang bermakna “mampu” dan bisa yang bermakna “racun”.
4. Hiponimi atau Hiponim
Chaer (2003: 305-306) mengatakan bahwa hoponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misalnya kata merpati dan kata burung. Relasi hiponimi bersifat searah, bukan dua arah, sebab jika merpati berhiponim dengan burung, maka burung bukang berhiponim dengan merpati, melainkan berhipernim.
5. Polisemi
Polisemi adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Karena kegandaan makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna kata yang didengar atau dibacanya. Polisemi terjadi karena kecepatan melafalkan kata, faktor gramatikal, faktor leksikal, faktor pengaruh bahasa asing, faktor pemakai bahasa yang ingin menghemat penggunaan kata, dan faktor pada bahasa itu sendiri yang terbuka untuk menerima perubahan baik perubahan bentuk maupun perubahan makna (Pateda, 2001: 213).
6. Ambiguitas
Pateda membagi ambiguitas menjadi 3 menurut tingkatannya, yaitu ambiguitas pada tingkat fonetik, ambiguitas pada tingkat gramatikal, dan ambiguitas pada tingkat leksikal (Pateda, 2001: 202). Ambiguitas pada tingkat fonetik timbul akibat membaurnya bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan. Kadang-kadang karena kata-kata yang membentuk kalimat diujarkan secara cepat, orang menjadi ragu-ragu tentang makna kalimat yang diujarkan. Misalnya, seseorang mengujarkan /kera apa/, apakah yang dimaksud kera apa, atau kerap apa.
7. Idiom
Idiom adalah grup kata-kata yang mempunyai makna tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup itu. Idiom tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa asing. Idiom adalah persoalan pemakaian bahasa oleh penutur asli, idiom tidak bisa membuat sendiri (Alwasilah, 1987: 150)
8. Redundansi
Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya kalimat Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika (Chaer, 2003: 310).

Daftar Pustaka
Alwasilah, Chaedar. 1987. Linguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik. Diterjemahkan oleh L. Soetikno. Jakarta: Gramedia.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Verhaar, J.W.M. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


untuk download file silakan klik Halaman Download
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar