Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH, S.S.

Menempuh studi S-1 pada program studi Sastra Indonesia (keminatan Ilmu Sastra) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook.
Memuat...

Minggu, 02 Oktober 2011

JENIS-JENIS PERUBAHAN MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA

Oleh:
Alfian Rokhmansyah
2150407005
Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang


A. Perluasan (generalisasi)
Perluasan makna kata terjadi apabila makna kata sekarang lebih luas dari makna asalnya. Contoh: kata berlayar yang dahulu berarti “mengarungi lautan dengan kapal layar” sekarang berganti menjadi “pergi kelaut dengan berbagai macam kapal” (Darmawati, 2008).
B. Penyempitan (spesialisasi)
Perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja (Chaer, 1990: 147). Misalnya kata sarjana yang tadinya bermakna “orang cerdik pandai”, tetapi kini bermakna “lulusan perguruan tinggi” seperti pada kalimat Ardi adalah seorang sarjana sastra dari Univeristas Indonesia.
C. Peninggian (ameliorasi)
Ameliorasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi dari asalnya. Contoh: kata wanita yang dahulu berarti “perempuan biasa” sekarang menjadi “perempuan yang dihormati”.
D. Penurunan (peyorasi)
Menurut Parera (2004: 128) berdasarkan latar belakang pemakaian makna kata dan pengalaman pemakaian makna kata dalam situasi dan konteks yang kurang menyenangkan, maka makna kata tersebut cenderung mengalami peyorasi. Misalnya kata amplop dalam konteks tertentu telah mengalami peyorasi menjadi “uang sogokan”. Hal ini terlihat pada kalimat warung itu menjual amplop dengan kalimat pejabat itu mendapat amplop.
E. Sinestesia
Menurut Darmawati (2008) sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Contoh: kata pedas yang dahulu hanya digunakan untuk menggambarkan rasa cabe (indera pengecap) sekarang berarti “kasar”, “melukai perasaan” (indera pendengaran).
F. Asosiasi
Asosiasi (Darmawati, 2008) adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat. Contoh: kata amplop yang dahulu berarti “tempat menyimpan surat” sekarang berarti “uang suap (biasanya ditempatkan pada amplop)”.
G. Perubahan Makna Total
Menurut Chaer (1990: 147) perubahan makna total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Chaer (2003: 314) juga menambahkan makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Misalnya kata ceramah dahulu bermakna “cerewet, banyak cakap”, sekarang bermakna “uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak”.
H. Penghalusan (eufimisme)
Penghalusan adalah upaya mengganti kata-kata sehingga maknanya lebih halus atau lebih sopan (Chaer, 2003: 314-315). Misalnya kata korupsi diganti dengan ungkapan menyalahgunakan jabatan. Kata menyalahgunakan dianggap lebih halus atau lebih sopan dari kata korupsi. Kata pemecatan diganti dengan ungkapan pemutusan hubungan kerja.
I. Pengasaran (disfemia)
Menurut Chaer (1990: 149) pengasaran adalah usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Misalnya kata mengambil diganti dengan kata mencaplok; atau ungkapan memasukkan ke penjara diganti dengan menjebloskan ke penjara.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
________. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Darmawati, Sri. 2008. Perubahan Makna dalam Bahasa Indonesia. http://www.tungara47.co.cc/ diunduh 8 Juni 2009.
Parera, J.D. 2004. Teori Semantik, Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.




untuk download file silakan klikHalaman Download
Comments
1 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

1 komentar: