Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 pada program studi Sastra Indonesia (keminatan Ilmu Sastra) di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Sabtu, 01 Oktober 2011

ANALISIS STILISTIKA DALAM NOVEL "BELENGGU" KARYA ARMIJN PANE

Oleh:
Alfian Rokhmansyah

1. Pendahuluan

Penelitian gaya bahasa yang terdapat dalam kaya sastra sampai saat ini masih jarang dilakukan atau masih sedikit (Pradopo, 2000:263). Studi ini umumnya masuk kedalam dua bidang kajian yakni linguistik dan sastra. Tulisan ini akan menelaah salah satu novel dalam sastra Indonesia karya Armijn Pane yang berjudul Belenggu. Novel ini berisi cerita kehidupan rumah tangga Sukartono dan Sumartini. Kehidupan yang penuh lika-liku, dengan kehadiran pihak ketiga yang memang sudah dikenal oleh Sukartono. Rohayah adalah wanita masa lalu Sukartono. Rohayah muncul kembali setelah Sukartono menikah dengan Sumartini. Dalam hal ini, teks dianggap memiliki nilai yang sama untuk diteliti dari prespektif manapun (Barthes, 1981: 37-38).

Dengan demikian, teks mempunyai perlakuan yang sama untuk diinterpretasikan. Setelah dilakukan pembacaan terhadap cerpen ini, cerpen ini tampaknya menarik untuk diteliti dari sudut stilistika. Hal ini disebabkan gaya yang ada dalam cerpen ini sekilas menujukkan kekhasan gaya bahasa yakni munculnya dominasi gaya perumpaman, personifikasi, dan metafora. Selain itu, gaya tersebut dijadikan sarana pembungkus makna sehingga layak dilakukan pembongkaran guna mengetahui makna, efek, dan citraan yang ditimbulkan dari penggunaan gaya tersebut.

2. Ruang Lingkup Kajian Stilistika

Kerancauan yang muncul dari definisi stilistika adalah masalah yang kadang dihadapi oleh mahasiswa yang beru mengenal istilah ini. Sebab stilistika ilmu gaya bahasa yang juga termasuk dalam cabang ilmu linguistik selain ilmu sastra. Kridalaksana (1982:157), dalam Kamus Linguistik, memberikan batasan stilistika.. Menurutnya, stilistika adalah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdispiliner antara linguistik dan kesusastraan (2) penerapan lingustik pada penelitian gaya bahasa. Menurut Turner (1977:7), stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa, terutama dalam kesusastraan. Fowier (1987:237) mengatakan bahwa stilistika merupakan cabang dari studi sastra. Menurutnya, para ahli mengatakan bahwa stilistik meneliti sastra pada aspek bahasanya, yakni imaji, stuktur suara, sintaksis, dan lain-lain.

Umar Junus (1989:xvii) mengatakan bahwa hakikat stilistika adalah pemakaian dan penggunaannya dalam karya sastra, tetapi kemunculannya sudah ada dalam linguistik. Menurutnya, stilistika dipakai sebagai gabungan, yakni ilmu sastra dan ilmu linguistik. Lebih lanjut, Umar Junus (1989:xviii) mengusulkan bahwa stilistika itu menjadi ilmu yang berdiri sendiri, terlepas dari linguistik ataupun sastra.Stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa. Menurut Sudjiman (1993:3) stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi atau memanfaatkan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek apa yang ditimbulkan oleh penggunanya. Stilistika meneniliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra.

Gaya bahasa sendiri adalah (1) pemanfaatan kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur dan menulis, (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu, (3) keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra (Kridalaksana, 1982:49-50). Enkvist (dalam Junus, 1989:4) mengatakan bahwa gaya bahasa ada enam pengertian khasnya, yakni (1) bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada sebelumnya, (2) pilihan antara berbagai pernyataan yang mungkin, (3) sekumpulan ciri pribadi, (4) penyimpangan norma atau kaidah, (5) sekumpulan ciri kolektif, dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas dari pada kalimat.

Untuk mengkaji karya sastra dari sudut stilistika, ada dua kemungkinan dalam mendekatinya. Pertama, studi stilistika dilakukan dengan cara menganalisis sistem linguistik karya sastra dan dilanjutkan dengan menginterpretasi ciri-cirinya, dilihat dari tujuan estetis karya sastra sebagai makna yang penuh. Kedua, penelitian stilistika ini dilakukan dengan mengamati variasi dan distorsi terhadap pemakian bahasa yang normal dan menemukan tujuan estetisnya (Wellek dan Warren, 1990:226). Dari kedua pendekatan tersebut terlihat perbedaan letak pijakannya. Namun, kedua pendekatan tersebut pada hakikatnya tidaklah saling bertentangan.

Kajian stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif. Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan, kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan sistem tanda dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung jawabkan. Landasan empirik merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran kajian.

Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami, dan menghayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh pengarang. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan apresiasi sastra meliputi :
1. Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.
2. Analisis hubungan antara sistem tanda yang satu dengan yang lainnya.
3. Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan keilmiahan (Aminuddin, 1995:42).
4. Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin, 1995:98).

Aminuddin (1995:42-43) mengungkapkan bahwa prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya :
1. Analisis aspek gaya dalam karya sastra.
2. Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda baca dan cara penulisan.
3. Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra.

3. Analisis Stilistika Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Dalam kajian stilistika dalam novel Belenggu ini, dilakukan beberapa analisis pada gaya bahasa yang digunakan pengarang, penggunaan tanda baca oleh pengarang, pemanfaatan majas, dan gaya lain yang menunjukkan ciri khas penulisan dalam novel ini.

*untuk mengunduh file makalah ini, silakan masuk Halaman Download
Comments
2 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

2 komentar:

  1. hasil analisis stilistika terhadap novel belenggu kok tidak dijelaskan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak saya posting. silakan unduh saja.

      Hapus