Tentang Saya

ALFIAN ROKHMANSYAH

Menempuh studi S-1 tahun 2007 di program studi Sastra Indonesia (ilmu-ilmu sastra), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menempuh studi S-2 tahun 2011 pada program studi Magister Ilmu Susastra (konsentrasi Sastra Indonesia), Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat ini menjadi staf pengajar di UP. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, Samarinda untuk program studi S-1 Sastra Indonesia.

Jika ingin ngobrol masalah sastra dan kajian sastra, silakan kontak di email: alfiansastra@gmail.com atau melalui facebook. Bisa juga melalui Whatsapp ke +6285385388335

Memuat...

Minggu, 02 Oktober 2011

ANALISIS SEMIOTIKA CERPEN MEGATRUH KARYA TITON RAHMAWAN (KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES)

Oleh :
  1. Alfian Rokhmansyah 2150407005
  2. Wdiyawati 2150407025
  3. Dewi Rohmiyati 2150407027
  4. Septa Indriawati 2150407028
Program Studi Sastra Indonesia, S1
Univ. Negeri Semarang


Menurut Endraswara (2003: 64) struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem sendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda.

Seperti halnya bahasa, teater dapat menonjolkan atau membuat sesuatu yng aneh, asing, atau lain (make strange) unsur-unsur yang spesifik dari pemangungan sebagai cara untuk menciptakan makna yang lain sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemberi tanda (Indarti, 2004: 102).

Segala sesuatu yang disajikan kepada penonton dalam kerangka teatrikal adalah tanda. Membaca tanda-tanda (untuk memahaminya) adalah suatu cara yang dapat kita mulai dengan jalan memahami apa saja yang berada di sekitar kita. Misalnya kita ‘membaca’ orang-orang yang kita jumpai di jalan, bagaimana mereka berpakaian, rambut kusut, pakaian yang lusuh, dan sepasang sepatu yang jelek yang menandakan pria kota. Meskipun kita dengan sendirinya akan ‘membaca’ dari apa yang kita lihat tersebut karena pengetahuan kita akan kode-kode pakaian (Barthes dalam Indarti, 2004: 99-100).

Analisis prosa menggunakan pendekatan semiotik sebenarnya hampir sama dengan analisis semiotik puisi, yaitu bertujuan menemukan makna yang terkandung dalam karya sastra. Umumnya analisis semiotik prosa menggunakan teori-teori struktural prosa, salah satunya dengan teori semiotik Roland Barthes. Barthes menggunakan metode analisis lima kode, yaitu kode teka-teki atau hermeneutik, kode konotatif atau semik, kode simbolis, kode aksian, dan kode budaya. Kelima kode ini digunakan untuk menganalisis karya sastra khususnya prosa dengan tujuan untuk menemukan amanat yang terkandung dalam karya tersebut.

Dalam analisis ini menggunakan objek sebuah cerpen karya Titon Rahmawan yang berjudul Megatruh. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak yang tidak mau tahu dengan orang tuanya karena sudah merasa dibodohi dengan kelakuan orang tuanya. Akhirnya ia tahu jika ayahnya telah meninggal, dan ia mengalami pergulatan batin. Di samping itu dia harus menerima jika ia tidak sedikit pun mendapat warisan harta orang tuanya. Ia hanya diberi sajadah kumal, sarung kumal, dan layang-layang dari kain.

Analisis cerpen Megatruh ini menggunakan teori semiotik yang dicetuskan oleh Roland Barthes, yaitu menggunakan analisis lima kode, yaitu kode hermeneutik, kode konotatif, kode aksian, kode simbolis, dan kode budaya. Dari analisis menggunakan metode lima kode Roland Barthes, dapat disimpulkan mengenai amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini, yaitu:
1. Seorang anak harus patuh kepada orang tua, yang digambarkan dari tokoh Agung yang tidak mau mendengar pesan-pesan keluarganya ketika bapaknya dalam kondisi sakit.
2. Sebaiknya lebih mengutamakan keluarga dari pekerjaan walaupun dituntut untuk lebih profesional. Hal ini terlihat ketika Agung lebih memilih untuk bekerja daripada pulang menjenguk bapaknya yang sedang sakit.
3. Setiap orang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhannya dalam kondisi apapun. Hal inin terlihat ketika Bapak mewariskan sajadah dan sarung kumal kepada Agung yang dapat diartikan walaupun dalam kondisi apapun tetap jangan meninggalkan solat.
4. Janji harus selalu ditepati. Pesan ini diperoleh dari layang-layang yang diberikan kepada Agung. Bapak telah menjanjikan membuatkan layang-layang yang lebih bagus untuk putra Agung, dan Agung tak kunjung datang untuk menemui bapaknya sampai akhirnya bapaknya meninggal.

Daftar Pustaka
1. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
2. Hudayat, Asep Yusup. 2007. Metode Penelitian Sastra. Modul. Bandung: Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran.
3. Indarti, Titik. 2004. Memahami Drama Sebagai Teks Sastra dan Pertunjukan. Surabaya : Unesa University Press
4. Minderop, Albertine. 2005. Metode Karaktertistik Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
5. Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
6. Rahmawan, Titon. 2007. Megatruh. Dalam Kumpulan Cerpen Tembang Bukit Kapur, Cerpen Pilihan Escaeva. Fenty Febriyanti (Ed.). Jakarta: Escaeva.
7. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
8. Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, dkk. Jakarta: Djambatan.
9. Van Zoest, Art. 1993. Semiotika : tentang tanda, cara kerjanya dan apa yang kita lakukan dengannya (terjemahan Ani Soekawati). Jakarta : Yayasan Sumber Agung.

Untuk mendownload artikel ini, silakan masuk Halaman Download
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar